You need to enable javaScript to run this app.

"Meneladani Cara Nabi Ibrahim dalam Mendidik Anak" Pengajian Keluarga Guru & Karyawan MUSABA

  • Senin, 27 Mei 2024
  • Administrator
  • 0 komentar

Ahad, 26 Mei 2024 Keluarga besar SMK Muhammadiyah 1 Bantul kembali mengadakaan Pengajian rutin keluarga yang pada kesempatan kali ini bertempat di Masjid At Tauhid, Bibal RT 1, Girisuko, Panggang, Gunungkidul dengan Bapak Said Fathul Majid, S.Pd bertindak sebagai tuan rumah. Pengajian rutin ini dihadiri oleh Guru dan Karyawan SMK Muhammadiyah 1 Bantul beserta keluarga.

Tujuan dari Pengajian Keluarga Guru dan Karyawan SMK Muhammadiyah 1 Bantul ini salah satunya untuk menambah pengetahuan dalam ilmu agama serta bermuasabah diri dalam mendalami ilmu yang disampaikan. Selain itu juga untuk mempererat tali silaturahmi dan ramah tamah antar keluarga guru dan karyawan SMK Muhammadiyah 1 Bantul. Pengajian yang diikuti lebih kurang 100 peserta ini berlangsung mulai pukul 08.00 sampai dengan jam 10.00 siang.

Penceramah pada pengajian kali ini adalah Ustadz Sandi Rahman, S.Ag. Dalam ceramahnya beliau menyampaikan terkait meneladani cara Nabi Ibrahim dalam mendidik anak. "Bagaimana mendidik sehingga didikan kita menjadi orang sukses?, Sukses itu cuman satu ketika seorang masuk surga. Dunia ini proses perjalanan kehidupan sementara sukses itu diakhir.

Jabatan tinggi, harta banyak belum tentu masuk surga karena itulah sukses sesungguhnya ketika seseorang tersebut mampu masuk surga. Sebagaimana Ikhtiar Nabi Ibrahim dalam mendidik anaknya menjadi sosok yang saleh tampak pada diri Nabi Ismail. Keberhasilan itu berkat sejumlah metode pendidikan yang diterapkan Nabi Ibrahim, bahkan sejak sang anaknya belum dilahirkan. Terdapat beberapa cara mendidik anak versi Nabi Ibrahim:

Yang pertama berdoalah agar dikaruniai anak yang saleh. Walaupun beliau adalah seorang nabi Allah Ta’ala dan kekasih-Nya (khalilullah), tapi Nabi Ibrahim tetap bermunajat agar dikaruniai anak yang saleh. (QS ash-Shafat: 100). Doa itu mengajarkan bahwa mendidik anak tidak bisa dengan usaha belaka, tetapi juga butuh kepasrahan jiwa memohon pertolongan-Nya.

Kedua jadilah teladan bagi anak, Kunci sukses model pendidikan Nabi Ibrahim adalah metode keteladanan. Dalam Al-Qur’an terdapat dua ayat yang menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam adalah uswatun hasanah (QS al-Mumtahanah: 4 dan 6) bagi umatnya, termasuk bagi anak-anaknya. Dalam perkembangan psikologi anak, si kecil cenderung meniru (imitatif) orang-orang sekitarnya, terutama orang tua. Di sinilah diperlukan keteladanan orang tua, baik soal keimanan, ketaatan beribadah, sikap, maupun perilaku sehari-hari.

Ketiga Pilih lingkungan yang baik untuk perkembangan mental anak.

Setelah Siti Hajar melahirkan Nabi Ismail, Nabi Ibrahim mengantarkan mereka ke suatu tempat yang lengang dan tandus bernama Makkah. Lalu, Nabi Ibrahim bermunajat agar tempat itu diberkahi dan baik untuk perkembangan mentalitas anaknya (QS Ibrahim: 37). Jika lingkungan baik, maka akan mudah membentuk perilaku anak, demikian pula sebaliknya. Dalam arti lebih luas, orang tua mesti mengawasi pergaulan anak-anaknya. Mulai dari memilih sekolah yang memperhatikan pembinaan sikap keberagamaan dan akhlak mulia, hingga memilih lingkungan tempat tinggal yang kondusif dan mendukung perkembangan mentalitas anak ke arah positif.

Keempat Komunikatif dan demokratis dengan anak, Sikap demokratis dan komunikatif Nabi Ibrahim terlihat dari kisah penyembelihan putranya. Ketika Nabi Ibrahim mendapat perintah menyembelih anaknya, ia panggil Nabi Ismail  menggunakan kata "Ya bunayya" atau "Wahai anakku sayang." Kata itu merupakan panggilan penuh kasih sayang yang komunikatif antara seorang ayah dan anak.

Sementara itu, sisi demokratisnya tampak ketika Nabi Ibrahim meminta pendapat Nabi Ismail tentang perintah penyembelihan itu (QS as-Shaffat:102). Pelajaran yang bisa diambil dari cara Nabi Ibrahim  ini adalah bahwa orang tua tidak boleh memaksakan kehendak kepada anak, kecuali hal prinsip seperti ketaatan beragama. Orang tua jangan menampilkan diri sebagai sosok yang ditakuti anak, tetapi jadilah sosok guru yang disayangi, dihormati, dan diidolakan.

Dan yang terakhir cintailah anak karena Allah Ta’ala, Hal ini tampak ketika Nabi Ibrahim rela mengorbankan Nabi Ismail ketika diminta Allah Ta’ala untuk menyembelihnya. Kisah ini mengajarkan agar mencintai anak semata-mata karena Allah Ta’ala. Sebab, jika kecintaan kepada anak melebihi cinta kepada Allah Ta’ala, malapetaka akan ditimpakan dalam kehidupan keluarga itu (QS al-Taubah: 24)." Kegiatan diakhiri dengan makan siang bersama dan ramah tamah antar keluarga Guru dan Karyawan SMK Muhammadiyah 1 Bantul. (min)

Bagikan artikel ini:

Beri Komentar

Harimawan, S.Pd, T

- Kepala Sekolah -

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Salam sejahtera bagi kita semua. Puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, atas segala...

Berlangganan
Banner